Dari "Bank Digital" ke "Bank Berbasis Ekosistem": Membaca Arah Baru OJK

PERGESERAN ARAH YANG RESMI
Selama lima tahun terakhir, pertanyaan bagi industri perbankan adalah: “apakah kita sudah digital?” Hari ini, pertanyaan OJK sudah bergeser — bukan lagi soal kecepatan berdigitalisasi, melainkan apakah model bisnis digital kita mampu tumbuh secara berkelanjutan, inklusif, dan tetap dipercaya.
Arah itu tertuang dalam Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Indonesia (RP3I) 2026–2030. Lima prioritasnya: penguatan kelembagaan, modernisasi teknologi dan ketahanan digital, penguatan intermediasi, keuangan berkelanjutan, serta penguatan pengawasan. Empat fondasinya: infrastruktur digital, kualitas sumber daya manusia, data dan tata kelolanya, serta koordinasi lintas otoritas.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, merumuskannya dengan tegas: “Lima tahun setelahnya, fokus kita perlu bergeser dari sekadar akselerasi digitalisasi menuju pembentukan model bisnis digital yang berkelanjutan, inklusif, dan resilien.”
EKOSISTEM BUKAN SEKADAR AFILIASI
Model bisnis bank digital memang sangat dekat dengan ekosistem digital: kolaborasi dengan perusahaan teknologi, e-commerce, dompet digital, dan fintech mempercepat distribusi layanan, memperluas jangkauan pasar, dan menyingkat inovasi. Namun OJK memberi peringatan penting: keunggulan ekosistem tersebut perlu dibangun menjadi model bisnis yang mampu tumbuh secara berkelanjutan dan tidak semata-mata bergantung kepada dukungan afiliasi.
Inilah titik balik yang sering terlewat. Bank berbasis ekosistem bukan bank yang sekadar menempel pada grup usahanya, melainkan bank yang benar-benar menjadi simpul dalam rantai nilai. Ia hadir di tempat transaksi terjadi: pembiayaan rantai pasok, payroll dan keuangan karyawan, ekosistem pertanian dari petani sampai eksportir, rantai pariwisata dari tiket sampai pedagang, atau keuangan tertanam (embedded finance) di dalam platform dagang elektronik.
TIGA KATA KUNCI: SUSTAINABLE, INKLUSIF, TRUSTED
Pertama, sustainable. Teknologi akan semakin menentukan cara masyarakat dan bisnis berinteraksi; bank yang tidak beradaptasi akan kehilangan relevansi.
Kedua, inklusif. OJK menegaskan model bisnis bank digital tidak boleh berhenti sebagai gimmick — bank dituntut menemukan skema produk baru yang menjangkau segmen yang selama ini belum terlayani dengan baik.
Ketiga, trusted. Kepercayaan dibangun dari keamanan sistem, kejelasan biaya, mutu penyelesaian keluhan, dan perlindungan data nasabah.
YANG HARUS DIJAGA DI BALIK PERTUMBUHAN CEPAT
Semakin dalam bank masuk ke ekosistem, semakin besar eksposur risikonya: ketergantungan pada satu mitra strategis, risiko siber dan keberlangsungan layanan pihak ketiga, serta perlindungan data pribadi yang kini menjadi bagian dari reputasi.
Kerangka pengaturannya terus dirapikan: POJK Nomor 12 Tahun 2021 tentang Bank Umum memberi kerangka penyelenggaraan bank digital; POJK Nomor 21 Tahun 2023 tentang Layanan Digital oleh Bank Umum beserta SEOJK 24/SEOJK.03/2023 mengatur layanan digital dan kerja sama dengan pihak ketiga; dan aturan pelaksana penyelenggaraan teknologi informasi perbankan terus diperbarui mengikuti eksposur risiko operasional yang meningkat.
MENGAPA FONDASI INI MENENTUKAN — DAN DI MANA LSP BISDI MASUK
RP3I menempatkan infrastruktur digital, sumber daya manusia, serta data dan tata kelolanya sebagai fondasi. Fondasi sumber daya manusia tidak cukup dijawab dengan pelatihan sesaat; ia menuntut kompetensi yang terukur dan dapat dibuktikan. Di sinilah LSP Bisnis Digital Indonesia (LSP Bisdi) bekerja.
LSP Bisdi didirikan oleh Perkumpulan Profesi Bisnis Digital Indonesia dengan dukungan Komdigi, Kementerian Perdagangan, APINDO, dan APRINDO, serta menyelenggarakan sertifikasi kompetensi berbasis standar kompetensi nasional.
A. TIGA SKEMA SERTIFIKASI YANG LANGSUNG RELEVAN DENGAN BANK EKOSISTEM
Bisnis Intelijen — menghasilkan tenaga ahli yang mampu memetakan pasar, perilaku nasabah, dan lanskap pesaing di dalam ekosistem tempat bank berada. Bagi bank, kemampuan ini menentukan ketepatan keputusan ekspansi, penetapan harga, dan pengembangan produk.
Transformasi Digital — membekali pegawai dengan kemampuan mengubah proses dan model kerja, bukan sekadar mengganti aplikasi. Ini pembeda antara bank yang terlihat digital dan bank yang benar-benar bekerja secara digital.
AI Digital Marketing — membekali pegawai dengan kemampuan memanfaatkan kecerdasan buatan untuk menjangkau segmen yang belum terlayani secara efisien. Ini sejalan langsung dengan amanat inklusivitas OJK: menjangkau nasabah baru, bukan hanya bersaing pada basis nasabah yang sama.
B. SERTIFIKASI SEBAGAI BUKTI KOMPETENSI YANG DAPAT DIAUDIT
Bagi bank, nilai sertifikasi bukan pada piagamnya, melainkan pada kemampuan membuktikan: siapa kompeten, pada level apa, dan berdasarkan standar apa. Ini penting ketika bank harus menjelaskan kesiapan sumber daya manusia kepada pengawas maupun kepada mitra ekosistem.
Karena disusun atas standar kompetensi nasional, skema LSP Bisdi dapat dipetakan ke peran spesifik di bank ekosistem: analis kredit ekosistem, relationship manager rantai pasok, analis risiko digital, hingga pengelola program inklusi keuangan digital.
C. MENUTUP KESENJANGAN KOMPETENSI SECARA TERSTRUKTUR
Kebutuhan bank ekosistem biasanya terkonsentrasi pada tiga hal: kemampuan membaca data dan pasar, kemampuan mengubah proses, serta kemampuan memanfaatkan teknologi baru secara bertanggung jawab.
LSP Bisdi menutup ketiganya melalui rangkaian yang tidak berhenti di pelatihan: pemetaan kebutuhan kompetensi per peran, program penyiapan, asesmen oleh asesor, dan sertifikasi — sehingga hasilnya dapat diukur dan diperbarui secara berkala.
JALUR KERJA SAMA YANG PRAKTIS
1) Pemetaan kompetensi — mengidentifikasi peran kunci pada model bisnis ekosistem dan kompetensi yang dibutuhkan masing-masing peran.
2) Program penyiapan — menyiapkan peserta sesuai skema yang dipilih, dengan materi yang relevan dengan pekerjaan sehari-hari.
3) Asesmen dan sertifikasi — menilai kompetensi secara objektif dan menerbitkan sertifikat yang dapat diverifikasi.
4) Pemutakhiran berkala — menyelaraskan kembali skema dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan ekosistem bank.
PENUTUP
Arah OJK jelas: dari sekadar berdigitalisasi menuju model bisnis digital yang berkelanjutan, inklusif, dan dipercaya. Bank yang menang bukan yang paling cepat meluncurkan aplikasi, melainkan yang paling serius menyiapkan manusianya.
LSP Bisnis Digital Indonesia membantu bank memastikan bahwa sumber daya manusia yang menjalankan model bisnis ekosistem benar-benar kompeten — dan kompetensinya dapat dibuktikan.

